Dialog Dua Arah

Dialog Dua Arah

   

   
    
   

Di
suatu siang sehabis shalat dzuhur berjamaah, ada perbincangan antara
seorang anak laki-laki dengan sang ibu, dikarenakan ayahnya sedang
pergi ke kantor..dialog itu dilakukan dua arah, begini dialognya:

Seorang anak bertanya kepada seorang Ibunya:

(n_n)’           : “Umi…kalo Rasulullah berdakwah, dibayar gak Umi?”..

(^_^)
: ”Anakku…Rasulullah berdakwah tidak dibayar..Beliau seseorang yang
memang ditugaskan Allah untuk menyampaikan ayat-ayatNya, tanpa suatu
imbalan apa pun, walaupun banyak kaum yang menentangnya, beliau tanpa
sedikit pun goyah untuk terus berdakwah”…

(n_n)’           : berarti itu namanya ikhlas yah Umi?

(^_^)            : Untuk seorang yang berkedudukan Rasul..Insya Allah beliau dijamin  keikhlasannya..

(n_n)’           : Umi..kalau begitu Ridwan mau ketemu Rasulullah di dalam mimpi Mi.. Ridwan mau cerita sama Rasulullah…

Sang ibu terhenyak dengan pernyataan anaknya itu..
(^_^)            : Memangnya Ridwan mau cerita apa??

(n_n)’
: Umi..Ridwan kan nonton ceramah Ustad XX di TV..terus kata TV, Ustad
XX kalau berdakwah dibayar, dan dibayarnya juga mahal ..berarti kan gak
ikhlas…kan Rasul aja gak dibayar…kenapa Ustad itu dibayar?

Sang ibu bingung untuk menjawab pertanyaan anaknya..dengan berfikir sejenak ibu mengutarakan alternative alasannya

(^_^)
: Mungkin bisa saja bisa jadi ustad tersebut tidak mengharapkan
dibayar, tapi ada orang yang memberi uang karena ceramahnya…jadi
ustad tersebut tidak memaksa orang untuk membayarnya berdakwah…

(n_n)’           : Terus kalau memang dibayar, uangnya dipakai untuk apa?

(^_^)
: kita berusaha berkhusnudzon saja yah nak…bisa jadi uangnya dipakai
untuk diinfaqkan, atau untuk bayar biaya ongkos transportasinya atau
mungkin untuk biaya kehidupan anak istrinya.

(n_n)’           : tapi Ridwan gak setuju Mi..

(^_^)            : gak setuju kenapa Ridwan??

(n_n)’
: Kalau umi cerita..umi selalu bilang..kalau kita harus mengikuti
Rasulullah sebagai teladan…sedangkan rasulullah kan mendapat uang
dengan cara usaha berdagang kan Umi?

(^_^)            : Benar Ridwan…

(n_n)’
: Lalu kenapa ustad-ustad itu dapat uang lewat berdakwah? Tidak lewat
usaha lainnya? Kan kalau ceramah mereka menggunakan ayat2
Al-Quran?..berarti orang membayar ayat-ayat Al-quran itu dong Mi?

Ibu
tersebut tiba-tiba kaget dengan pertanyaan dari seorang anak yang
berumur 8 tahun tersebut..pertanyaan yang polos namun bermakna tajam…

(^_^)            : Yah…namanya manusia…Ustad juga manusia Anakku…

(n_n)’           : Rasulullah kan manusia juga Umi..Terus apa bedanya Rasulullah dengan ustad sekarang?? Kan sama-sama manusia?

(^_^)
: Yang membedakannya…Rasulullah sudah dijamin masuk surga
anakku…dan setiap jiwa manusia itu berbeda-beda…dan jiwa Rasulullah
itu berada di kedudukan yang paling tinggi derajatnya..

(n_n)’
: Apa karena Rasulullah dakwahnya tidak dibayar yah Mi…jadi sudah
dijamin masuk surga sedangkan ustad-ustad dibayar jadi gak dijamin
masuk surga?

Sang ibu terhenyak untuk beberapa kalinya atas pernyataan yang dilontarkan anaknya

(^_^)
:Ridwan…persoalan masuk surga itu hanya urusan Allah…kita tidak
berhak untuk mengurusi itu…hanya Rahmat Allah lah yang bisa membantu
kita…begitu pun Rasulullah dalam hadistnya pernah bersabda bahwa amal
ibadah yang banyak kita lakukan pun belum tentu menjamin kita
selamat..bahkan Rasul pun bersabda “Aku pun tidak dapat selamat jika
bukan rahmat dari Allah”..yang pasti kita berusaha yang terbaik untuk
menjadi hambanya Allah, agar kita memperoleh rahmatNya…

(n_n)’           : Oh gitu yah Umi…

(^_^)            : (Ridwan anakku…untuk anak seusiamu…engkau begitu matang dan kritis)

*********************************
Yah
mungkin saja ada dialog yang terjadi seperti di atas..Jujur…itu yang
sempat terlintas dalam fikiranku sendiri…maklum…setiap pemikiran
orang pasti berbeda2..dan kita juga tidak bisa untuk menyeragamkan
orang untuk berfikir seperti yang kita fikirkan…

Cuman emang
sempet terfikir juga…untuk memperoleh suatu tausyiah ayat-ayat
Al-Quran pun kita harus sms untuk ikutan registrasi..biar dapet
pencerahan…kalo untuk usaha n dapet penghasilan, ada yang ngadain
seminar blablabla dengan tema islami, ikutan workshop tentang nikah
dengan pendaftaran sekian puluh ribu, ikutan metode sholat khusyu dalam
tiga hari jadi khusyu sholatnya, blablabla…Metode yang semuanya
mengatasnamakan Islam…

Anehnya aku malah
berfikir…penghasilan diperoleh atas nama Islam…dengan mempatok
biaya-biaya, yang alesannya untuk ladang pengangguran, ladang amal,
blablabla..tapi dibalik itu esensinya apa?…dengan mengutip setiap
ayat Al-Quran yang akhirnya menjadi objek bisnis.

Alhamdulillah
kalo memang niatnya tidak mengambil untung sepeser pun, bahkan kalau
ngambil untung, bisa saja keuntungan itu seluruhnya diberikan kepada
orang yang sangat membutuhkan..Hanya yang menjadi pemikiran…ketika
bisnis mengatasnamakan dakwah..

Banyak fenomena yang
membudaya..yang itu sendiri sekarang dianggap sebagai strategi
dakwah…Toh Ridwan si anak kecil itu pun berkata bahwa dakwah itu
tidak mematok harga, Dakwah itu Real dikarenakan atas keberserahdirian
kita sebagai abdi /hambaNya..Islam adalah berserah diri.

Mungkin
alasan yang bisa diterima oleh kita…adalah karena biaya
operasional…atau untuk kehidupan anak istri..blablabla, namun memang
itu yang dinamakan dinamika kehidupan…yang menjadi fenomena langka
adalah seorang pencermah yang tidak mengharapkan bayaran atas
ceramahnya..bahkan ketika dibayar pun beliau menolak menerimanya…

Adakah seorang seperti itu? Menyampaikan ayat-ayat Al-Quran..tanpa ingin diberi imbalan?

Dan mungkin hanya segolongan orang yang sedikit…Allahualam b s

Kutipan ayat Al-Quran untuk bahan perenungan kita :

QS  Al An’aam 6:90
Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah
petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam
menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan
untuk seluruh ummat”.

QS Yaasiin 36:21
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu,  dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk

QS Al Mu’minuun 23:72
Atau kamu meminta upah kepada mereka?", maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezki Yang Paling Baik.

QS Saba’ 34.:47.
Katakanlah:
“Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku
hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

QS Ath Thuur 52:40.
Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang?

QS Shaad 38:86.
Katakanlah
(hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku
dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”. QS Asy
Syu’araa’ 26:180, 164
dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

QS Al Furqaan 25.:57.
Katakanlah:
"Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan
risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau
mengambil jalan kepada Tuhan nya”.

QS Yunus 10:72.
Jika
kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun
dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku
disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri
(kepada-Nya)."

QS Huud 11: 51.
Hai
kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak
lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu
memikirkan(nya)?"

QS Huud 11: 29.
Dan
(dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu
(sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku
sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman.
Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku
memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui."

2 Responses to “Dialog Dua Arah”

  1. Donny Says:

    Kepolosan seorang anak seringkali merepotkan ya…? Bertanya tanpa beban, seolah orangtua mereka memahami segalanya…

    Belakangan, saya juga sering mendiskusikan ini dengan teman-teman saya, yang paling mengagetkan saya sebetulnya pendapat dari orang-orang yang tidak terlibat dalam dakwah. Bisa lah disebut awam…tapi mereka sangat menyayangkan kejadian semacam ‘ustadz’ yang ‘dibayar’, apalagi sampai memasang tarif.

    Wajar jika kemudian muncul stigma semacam…’mending jadi ustadz aja, kerjanya cuma ngomong, tapi duitnya gede!’…glek! Miris juga ngedengernya.

    Soal pildacil saja sampai sekarang saya tidak pernah setuju. Terlalu kuat unsur bisnisnya daripada dakwah. Yah, memang harus lebih hati-hati ketika menggunakan Islam dalam hal apa pun…

  2. Olint Says:

    iya setuju juga k donny..olint juga punya pengalaman, waktu itu pernah ke Tasik..pas mo plg ke bandung Olint n temen2 mo sholat ashar kebetulan di masjid milik suatu keluarga sepertinya, di daerah..(duuh lupa lagi), mau ke WC,jaga sepatu/sendal,ada kotak kenclengnya.tp itu masih mending n maklum.cuman kebayang gak? kita sholat 1 orang ditagih Rp.1000 tiap orgnya.dan itu maksa.kita sih ga ngeliat besar kecilnya harga…cuman yg bikin ‘Ya ampun’nya itu..kalo 4 org sholat jadi 4000, hanya cuman numpang sholat n kita bawa mukena sendiri itu juga…
    sampei temen2 o jg pd menyayangkan.astagfirullah,entah apa jadinya…kalo kita bayar seikhlasnya itu kan lain lg, cmn kalo org mo sholat tujuannya ingin komunikasi dgn Khaliknya hrs dipatok dgn harga…sdgkan sang Khalik sendiri ngasih udara aja gratis..ga perhitungan..

    trus soal pildacil itu yg luchunya jadi ajang kirim2 sms,,bagi yang mendukung bisa abis pulsa berapa ribu perak..tujuannya ingin dikenal..ngabisin pulsa org yang ngedukung..entah kucuran dananya ke mana ngalirnya..(walow kita ga blh berprasangka)…

    terus fenomena sekarang sampei ada ustad yang masuk ke golongan selebritis..bukan masuk golongan lagi sih, tp dah jadi seleb..kemana2 dicium2in tgnnya..

    n masih byk lg…

    ya itu sih…terkadang kita selalu terbuai bahwa orang menyangka kalo ustad yg sholeh itu banyak pengikutnya, kalo ga banyak pengikutnya berarti ga sholeh…

    astagfirullahaladziim…
    mohon ampun Ya Allah atas tulisan ini…

Leave a Reply