Maximin n Minimax Methode
Beneran..Ternyata
tipe setiap orang berbeda-beda, ada orang yang ketika mempunyai suatu
ide di kepalanya mereka langsung mengeluarkan dengan verbal..pintar
mengutarakan argument, dan berani melakukan suatu eksperimen. Tapi ada
juga orang yang mempunyai suatu konsep di otak, namun sulit untuk
mengutarakan isi otak, kebanyakan mereka cenderung terlibat ke lapangan
langsung dan bekerja di lapangan.
Olint
juga gak habis fikir, pernah ketemu dengan beberapa orang yang setiap
waktu beliau pinter aja ngomong tuh, ga habis bahan pembicaraan,
mungkin orang-orang tipe ini bakalan kepake kalo terlibat dalam usaha
marketing atau berhubungan lobi-melobi dengan orang or perusahaan untuk
dapet project yang lumayan or menawarkan product… membuat orang yang
mendengarkan or nyimak bisa tertarik or yakin dengan sesuatu yang
sedang ditawarkan oleh vendor agar si customer tertarik…tapi kebanyakan
juga bakat untuk seperti itu enggak diimbangi dengan keahlian jika
terjun ke lapangan langsung..tapi gak semuanya ko…pada umumnya (emang
olint dah survey?- yah enggak sih, ye baonk)…paling olint sih baru
menemukan sample dilingkungan sekitar olint..bisa dari temen, kampus,
kerjaan, or blablabla…
Orang
yang pinter akan konsep, belum tentu pintar ketika ia terjun langsung
ke lapangan…begitu juga sebaliknya..ada orang yang kurang bisa memanage
sesuatu ketika dia diposisikan sebagai pemimpin, namun terlihat
maksimal ketika masuk sebagai posisi pekerja…tapi sih ini ga ada maksud
disangkut pautin dengan orang tipe NATO (No Act Talk Only)…soalnya
pasti dah pada tau tipe orang seperti ini..cuman butuh bukti real
dilapangan aja…
Contoh
seperti BJ Habibie…beliau yang udah bergelar proffesor n diberi gelar
‘ing’ oleh orang–orang jerman atas kecerdasan akademiknya, bahkan sudah
mengeluarkan suatu rumus standarisasi kaya rumus habibie (iya gitu
lint? kata siapa?) ‘dianggap’ oleh Jerman n bangsa kita pun sebagai
orang yang pintar dan cerdas…bagi kita mungkin orang yang pintar atau
cerdas pasti punya kemampuan dan keahlian dalam kepemimpinan…Namun pada
kenyataannya pendapat seperti itu belum tentu mutlak
kebenarannya…Memang dalam urusan membuat pesawat dan nilai eksaknya,
beliau memperoleh acungan jempol, bahkan rapotnya ketika sekolah tak
pernah bosan untuk diisi oleh angka2 romawi yang paling tinggi yaitu
angka sembilan. Dari seorang yang pintar dan cerdas ini ketika
diposisikan sebagai presiden, banyak yang menilai bahwa kinerjanya
sebagai seorang professor pembuat mesin pesawat terbang malah lebih
dipuji orang dibandingkan kinerjanya dalam pembuat keputusan or
decision maker ketika dihadapkan oleh persoalan bangsa..yah entah itu
bidang politik seperti contoh kasus Timor-timor…(Duuh…ko jadi ngomongin
Pa Habibi sih?- ga ada maksud ngomongin sih…cuman ngetikkin beliau
aja..walau jujur olint sendiri kagak ngerti banget soal politik2an)..
Makannya
kenapa ada manager n ada pekerja, gitu juga ada tukang becak n
penumpang (loh ko nyambung ke sana?) yah soalnya kalo semua orang jadi
manager aja..siapa yang bakalan ngerjain hasil idenya?..gitu juga kalo
semua orang jadi pekerja suruhan aja..kalo ga ada orang yang
mengkoordinir, pasti semua kerjaan bakalan berantakan n ga teratur.
Yang satu mau ke ‘A’ yang satu mau ke ‘B’ makannya dibutuhkan seorang
yang mengatur biar arah tujuan or visi misinya jelas…gitu juga dengan
semua orang..gak semua orang kuat jika mengayuh becak..butuh
keseimbangan, kekuatan otot, n minuman suplemen yang diiklanin mbah
Marijan n Christ John (ga juga sih) buat nguasain alat beroda tiga
tersebut..Makannya emang bener, Allah tuh menciptakan makhluknya
berpasang-pasangan..(kenapa nyambung kesana lint?- yah iya lah
nyambung..)…gak semuanya monoton…ada ‘Yin’ ada ‘Yang’…ada ‘langit’ ada
’bumi’, etc…Masya Allah…Keren!!
So..ga
mungkin masing-masing orang harus memerankan semua peran…setiap orang
punya jalannya masing-masing…punya misi hidupnya
masing-masing..makannya setiap orang yang satu n yang lain sifatnya
unique kaya di primary key dalam field data base…bahkan anak kembar
lima pun pasti ada perbedaan. Kadang ketika diskusi ma temen juga,
kenapa orang-orang barat kebanyakan sukses dalam karirnya..karena
mereka punya pandangan bahwa ketika mereka mempunyai bakat dan peluang,
mereka berusaha mendalami bidang tersebut..gak perlu banyak
bidang..tapi cukup satu dan satu itu diperdalam…gak maruk kaya
kita…ups! olint aja deh…pengennya ini or itu..ada yang nawarin project
diterima, ada yang ngajak usaha tertentu hayuu..ada yang
ngerekomendasiin jadi sesuatu, ga nolak…semua aja diterima…biar banyak
order n pemasukkan cennah…hehe…Justru dengan banyaknya pilihan tersebut
malah ternyata sangat sulit untuk kita menentukan di mana bidang yang
sebenernya yang hak untuk kita…
Emangnya
buat apa sih lint kita harus tau kayak ginian?..yah minimal ini usaha
untuk kita dalam mengenal diri kita…dalam wilayah luarnya aja dulu…dari
tingkat jasadiyah/ jasad dulu…soalnya hal ini aja sulitnya minta
ampun…gimana untuk mengenal aspek dalemnya juga itu lebih-lebih…denger
dari pembicaraan seseorang yang always memberi pelajaran…bahwa ukuran
diri kita itu diukur oleh kesempatan dan kemampuan..Jika kesempatan
sudah ada tapi kemampuan tidak dimiliki..maka jangan memaksakan
diri..itu hawa nafsu namanya, begitu juga jika kemampuan sudah dimiliki
namun kesempatan belum ada, jangan juga maksa-maksain diri..hawa nafsu
juga..idealnya sih ketika kesempatan dan kemampuan ada dan kita miliki,
maka itulah yang sebaiknya kita ambil…
Begitu
juga dengan pekerjaan…misalnya kita merasa berat atau tidak memiliki
kemampuan jadi seorang programmer tetapi kita memaksakan diri kita
untuk mengerjakan pekerjaan itu…(sebenernya gak salah ko..) hanya
saja..kita menggunakan energi maksimal kita, sampei sering kita hadapi
stressing n nyiksa diri kayak lupa makan, marah-marah, sholat sering
telat (astagfirullahaladziim), lemah, letih, lesu (itu mah gejala
kurang darah nenk!! Ngaco!!), etc…namun ketika dihadapkan pekerjaan
menjadi seorang perawat dan itu lebih nyaman, ada kepuasan ‘bathin’ dan
semakin mendekatkan diri kita untuk berjalan menujuNya…yah lebih baik
kita menggunakan energi minimal kita untuk menghasilkan energi maksimal
kita…susah susah gampang n gampang-gampang susah…yah itulah pekerjaan
awal kita…titik awal…dari tingkat jasadiyah…setelah itu baru berlanjut
pada tingkat jiwa..
Karena mamah olint dah manggil-manggil dari dapur,,minta tolong masakin soup…ya udah segini aja dulu…n olint mo ke bawah dulu..
Oia…
Ketika
seseorang bekerja dalam fitrah dirinya..dan beragama dalam bidangnya,
maka perjalanannya akan lebih mudah dibandingkan dia memaksakan bekerja
bukan dalam bidangnya…
“Man ‘Araafa Nafsahu Faqad ‘Araafa Rabbahu”
“Barang siapa yang mengenal nafs/jiwanya maka akan mengenal Rabb nya”
Bantu aku Ya Allah..untuk mengenal diriku…
Astagfirullahaladziim…
Allahualam bishawab…
dzihni firuz